Twitter Kembali Buka Pengajuan Verifikasi “Centang Biru” pada 2021

Posted on

Twitter Kembali Buka Pengajuan Verifikasi “Centang Biru” pada 2021 – Setelah ditangguhkan selama kurang lebih tiga tahun, Twitter akhirnya bakal kembali membuka pengajuan verifikasi akun, alias pemberian tanda “centang biru”. Hal tersebut diumumkan perusahaan asal San Francisco, California, AS itu melalui blog dan akun resminya di Twitter. Berdasarkan kedua informasi ini, beragam akun Twitter bakal bisa mendapatkan ikon “centang biru” pada 2021 mendatang.

Twitter Kembali Buka Pengajuan Verifikasi “Centang Biru” pada 2021

Kami akan meluncurkan kembali program verifikasi pada tahun 2021 & kami ingin mendengar masukan Anda. Bantu kami membentuk pendekatan kami terhadap verifikasi di Twitter. Baca rancangan kebijakannya dan kirimkan #VerificationFeedback Anda di sini:https://t.co/95oVHdDnCx — Twitter Indonesia (@TwitterID) November 24, 2020 “Kami berencana meluncurkan kembali proses verifikasi, termasuk proses permohonan verifikasi untuk publik, pada awal tahun 2021,” ujar pihak Twitter, dikutip KompasTekno dari BlogTwitter.

Meski demikian, Twitter belum menyebut tanggal pasti, kapan pengajuan akun terverifikasi itu akan kembali dibuka kembali. Pihak Twitter melanjutkan, bakal ada enam kategori “Notable Accounts” yang bisa mengikuti proses verifikasi dan mendapatkan lambang “verified” di Twitter. Keenam kategori akun tersebut adalah: 1. Akun lembaga pemerintah 2. Akun Perusahaan, merek dan organisasi non-profit 3. Akun Media 4. Akun Hiburan 5. Akun Olahraga 6. Akun aktivis, penyelenggara, dan Individu berpengaruh lainnya. Keenam kategori ini juga punya syaratnya masing-masing.

Untuk kategori lembaga pemerintah, misalnya, akun Twitter yang ingin diverifikasi harus mencantumkan situs resmi pemerintah, dijadikan referensi di beragam media publikasi, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk kategori media, akun Twitter-nya harus dipenuhi dengan beragam twit yang berisikan tautan kepada situs media terkait. Adapun nama situs tersebut kurang lebih harus sama dengan nama akunnya. Informasi mengenai syarat lengkap keenam kategori akun tersebut bisa disimak di tautan berikut.

Nah, agar sistem verifikasi ini berjalan dengan mulus dan tidak kacau seperti tiga tahun yang lalu, pihak Twitter meminta pengguna untuk memberikan umpan balik (feedback) atau masukan terkait kebijakan verifikasi baru yang bakal diimplementasikan ini. Kanal pertama adalah melalui survei. Pengguna bisa mengisi survei singkat (5-7 menit) di tautan berikut apabila ingin memberikan masukan terkait kebijakan verifikasi akun Twitter di tahun depan. Apabila tidak ingin mengisi survei, mereka juga bisa dengan mudah mengirimkan unggahan atau twit di Twitter dengan menyertakan tagar #VerificationFeedback.

Adapun periode feedback ini sudah digelar sejak 24 November kemarin dan bakal dibuka hingga 8 Desember mendatang. Twitter lantas bakal memproses beragam feedback tersebut dan mengumumkan kebijakan verifikasi akhir (yang mungkin sudah disesuaikan) pada tanggal 17 Desember mendatang, sebelum diimplementasikan pada awal tahun 2021 nanti. Sebagai informasi, sekitar 2017 lalu, Twitter sempat diprotes karena memberikan lencana biru pada akun Jason Kessler.

Kessler diketahui merupakan pihak pendukung supremasi kulit putih yang mengorganisir protes rasial di Charlotterville, Virginia, Agustus 2017 lalu. Banyak yang mengatakan akun Kessler tidak berhak mendapat lencana biru. Twitter pun mengakui bahwa pemberian lencana biru kepada akun Kessler salah. “Kami menyadari telah menciptakan kebingungan ini dan butuh untuk menyelesaikannya.

Kami telah menghentikan untuk sementara semua verifikasi umum yang dikerjakan dan akan melaporkan kembali segera,” tulis Twitter kala itu. Kemudian sekitar tahun 2018, Twitter membuka kembali verifikasi akun secara perlahan. Beberapa akun diketahui ‘beruntung’ mendapatkan lencana biru. Salah satunya penulis buku kontroversial Fire and Fury, Michael Wolff. Ada pula akun lain yakni Mick Mulvaney, Kepala Kantor Manajemen dan Anggaran Amerika Serikat, dan salah satu editor media Fast Company, Anjali Khosla.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *